Kata Penyayat Hati
Tertulis
beberapa karakter pada sebuah burung biru yang membawa perhatianku kali ini cukup
tajam. Tidak biasanya kata sederhana yang tertera rapih disertai foto
pemiliknya itu memiliki makna yang dalam bagiku. Ku baca dengan penuh tanya dan
perhatian.
Mengapa hati ini menjadi
seperti pecahan kaca yang tertiup angin seperti debu? Dan mengapa rasa ini
datang lagi? Padahal tidak ada undangan padanya. Ya Rabb aku semakin bingung
mengapa ketika ia menuliskan kata itu, aku merasa seperti tersayat pedang
samurai yang tajam tepat berada di uluh hatiku. Sengatan seperti listrik itu
hinggap lagi, ya Rabb apa yang harus aku lakukan selain berserah hanya
kepadaMu, menggangtungkan hatiku hanya padaMu.
Tidak biasanya ia
menuliskan kata-kata seindah itu. Kata yang biasa ia tuliskan adalah hal-hal
yang penting saja. Tetapi mengapa sekarang ia menuliskan kata seindah itu?.
Kata yang mungkin memang bagi setiap orang berkata itu hal wajar di tuliskan
oleh seorang remaja laki-laki, tapi mengapa aku tidak menangkap kewajaran itu?.
Setelah ku baca
kata itu berkali-kali. Di depan orang lain saja aku tegar, nyatanya hati ini
rapuh, sesak dengan debu ketidakpastian yang bersarang dalam hatiku.
Ternyata apa yang
aku pikirkan tidak sama dengan kenyataan, lantas apa maksud dari rahasia ini?
Kekhawatiran ini sama dengan paksaan untuk menelan pil pahit tanpa didampingi
seteguk air dalam gelas. Namun, bila kita menyikapinya dengan bijak maka pil
pahit itu akan mudah ditelan kemudian dicerna bersama dengan keikhlasan hati
menerima sebuah takdir layaknya air yang mengalir ditenggorokan untuk
menggiring pil pahit itu segera menuju lambung untuk dicerna. Begitu juga
kenyataan, sulit untuk diingkari dan sulit pula untuk diterima dengan baik.
Hingga kini kata itu membawaku pada
sebuah imajinasi yang tinggi, mengapa kata itu bisa muncul????
Komentar
Posting Komentar