Cerpen ke-3


DATE 24th

Di tengah ramainya suasana kelas baru, Riani hanya termenung diam sendirian pada bangku pojok yang didudukinya sedari tadi. Sebagai murid pindahan, Riani belum berani bersosialisasi dengan yang lainnya. Ia hanya bisa memandangi setiap kelompok murid yang sedang asyik bermain, ada yang sedang bergossip, memamerkan telepon genggam terbarunya, bermain kartu remi, bercanda satu sama lain, membaca buku, ada pula yang sibuk menghitung uang. Tidak ada seorang pun yang mengahampirinya untuk sekedar mengajaknya ngobrol atau paling tidak mengajaknya berkenalan, mereka semua asyik dengan kegiatan masing-masing tanpa memeperdulikan keberadaan dirinya. Namun berbeda hal nya dengan seseorang yang tepat duduk dibangku pojok sebelah kanan dari Riani, ia malah enak-enakan tidur ditemani alat pendengar musik yang tergantung di telinganya.

“Tidak biasanya kantin sepi dikunjungi pembeli, padahal ini jam istirahat. Masa iya sih anak-anak disini ga punya uang, sekolah ini kan, sekolah elite favorit,” Gumam Riani sambil membawa mangkok di tangan kanannya yang berisikan mie ayam kesukaan dia serta minuman segar ditangan kirinya. Lengkap sudah kesepian menghinggapinya, di kelas gak ada satu orang pun yang peduli dengan keberadaan dirinya, dan lebih parahnya lagi di kantin pun ikut-ikutan sepi. Riani terpaksa duduk sendiri di pojok meja putih yang hanya dilengkapi dengan pajangan saus dan kecap. Dari arah pintu masuk kantin, terdengar suara seseorang yang datang menuju kantin. Sambil membawa sebotol minuman yang ia minum, lelaki itu menghampiri Riani yang sedari tadi duduk sendirian.

“Lo Riani Fatma Jaya, yang SD Cemerlang kan?” tanya lelaki itu

“Iya, loh kok tau?” jawab Riani kaget

“Wah jahat nih udah gak inget lagi sama temen” ledek lelaki itu

“Temen SD? Siapa ya?’’ Riani termenung sebentar memikirkan siapa lelaki yang ada dihadapannya ini yang mengaku-ngaku teman SD nya.

“Ah kelamaan mikir, gue Randy” ledeknya kesal

“Randy si tukang tidur itu?” tebak Riani ragu

“Hahaha iya bener itu gue, paling males kalau di kelas udah super duper rame nyebelin kaya tadi suasananya. So dari pada kebawa emosi yang gak karuan lebih baik tidur toh” jelasnya

“Hahahahaha iya bener-bener” Riani mengiyakan

Tanpa disangka lelaki tinggi, putih, tampan, rambutnya keren abis yang sekarang ada tepat di pandanganya itu adalah teman semasa SD nya dulu, yang dekil, kumel, kusut, berantakan kaya yang gak keurus itu kini berubah 180 derajat keren abis, sampai-sampai Chiko Jeriko pun kalah sama Randy. Wajar aja kalo misalkan Riani gak ngenalin dia.

Lambat laun mereka menjadi semakin akrab. Semua orang iri melihat setiap keakraban mereka yang kemana-mana selalu berdua dan selalu kompak. Pertemanannya seolah-olah dimana ada gula ada semut, dimana ada Riani pasti ada Randy. Hobby yang sama pulalah yang mengakibatkan mereka menjadi semakin akrab. Kecintaan mereka terhadap olahraga Tennis, membuat mereka rutin melakukan latihan setiap minggunya. Sering kali mereka mengadakan pertandingan untuk mereka berdua dan apabila salah seorang dari mereka ada yang kalah, maka ia berhak mendapatkan hukuman. Kebetulan sekali minggu ini Randy yang mendapatkan hukuman, ia terpaksa untuk selalu mengantar jemput Riani kemanapun ia pergi.

 “Rianiiiiii” teriak Randy dari luar pagar rumah minimalis

“Non Rianinya tidak ada Den, sedang keluar bersama Ibu” jawab seorang perempuan separuh baya dari dalam pagar rumah

Kini beribu-ribu pertanyaan  pun hinggap pada benak Randy, karena gak biasanya Riani pergi tanpa bilang dulu pada dirinya, apalagi hari itu adalah jadwal les mereka dan ia baru sadar mengapa Riani selalu pergi bersama Ibunya setiap tanggal 24 pada tiap bulannya.

 “Riani, kemaren lo kemana? Tumben gak bilang dulu sama gue?” tanya Randy bete

“Itu bukan urusan lo, lagian memangnya lo siapanya gue? Bokap gue?” jawab Riani santai

“Kok gitu, kan lo sahabat gue masa sahabat lo sendiri aja ga boleh tau, kemana sih lo?

 “Idiiiih kepo banget sih lo, udah ah gue mau ke kantin, lapeeeer” jawab Riani sembari berjalan meninggalkan Randy.

∞∞∞

Ujian Negara atau yang biasa kita kenal dengan “Si Monster of Pendidikan” ini semakin dekat diselenggarakan. Siswa-siswi kelas XII SMA sibuk belajar mempersiapkan itu semua. Mereka gak ada bosen-bosennya nginjek tempat yang berlabel “Lembaga Kursus”, karena mereka takut kalo sampe gak lulus. Kehebohan para murid kelas XII juga tidak kalah hebohnya dengan Riani dan Randy. Mereka pun gak mau ketinggalan rajin oleh teman-teman mereka yang lain. Di akhir bulan ini hampir setiap hari mereka menghabiskan waktunya untuk belajar bersama di tempat les. Dan seperti biasa setiap tanggal 24 Riani selalu izin.

Pelajaran Fisika merupakan pelajaran yang bisa dibilang “The Most Monster of Pelajaran” bagi Riani. Tetapi sebaliknya dengan Randy Fisika bisa dibilang “The Most Angel of Pelajaran”, maka dari itu Riani rajin banget dateng ke tempat les hanya untuk berkonsultasi fisika dengan Randy. Saking terlalu bersemangatnya, Riani sampai lupa makan dan ketika ia berdiri untuk membeli makanan tubuhnya yang semampai terjatuh diatas lantai dan tidak sadarkan diri. Sontak membuat Randy panik dan cemas, tanpa basa basi lagi ia langsung membawa Riani ke Rumah Sakit terdekat.

Selama 2 minggu Riani terbaring lemah diatas tempat tidur Rumah Sakit. Dan kini ia bisa memulai kembali aktivitasnya seperti biasa yang sempat terbengkalai. 2 minggu lagi “Si Monster” akan datang dan menyerbu para murid yang siap tempur.

∞∞∞

Seragam putih abu yang dulu setia menemani kini telah Riani lepaskan. Bersama Randy dirinya memulai kehidupan baru yang penuh tantangan yaitu dunia perkuliahan. Kebetulan sekali mereka berada pada Univertas yang sama namun berbeda Fakultas. FIB merupakan pilihan Riani. Sedangkan, FTTM merupakan pilihan Randy. Entah alasan apa mereka memilih jurusan tersebut. Tetapi yang terpenting adalah persahabat antara Randy dan Riani tidak terpisahkan.

Tepat pada tanggal 23 malam Randy mengajak Riani ke sebuah tempat, gak biasanya Randy tampil mengenakan kemeja kotak-kotak coklat yang dipadukan dengan celana jeans hitam pas dengan kakinya dan di telapak kakinya terpasang 1 pasang sepatu converse terbaru serta di balut dengan wewangian khas laki-laki. Biasanya ia hanya berpakaian santai, cuek, dan gak seharum malam ini. Kini dirinya telah siap untuk menjeput Riani dirumahnya. Dan Riani pun telah siap pergi dengan mengenakan pakaian kaos putih lengkap dengan kemeja kotak-kotak hitam dipadukan dengan celana jeans hitam dan sepatu cats yang berhigheels 5cm serta aksesoris gelang kesayangannya yang sering ia pakai.

“Siaaaaaaaap?” tanya Randy memastikan

“Siap bos, mau kemana kita?” tanya Riani penasaran

“Surpriiiiice” jawab Randy girang

Motor vespa biru yang mereka kenakan melaju sangat kencang dan akhirnya mereka berhenti pada sebuah pasar malam. Riani terkejut dan tersenyum kegirangan, karena memang ia paling senang jika diajak ke pasar malam yang penuh hiburan dan lampu-lampu unik.

“Gilaaaa udah lama gue ga ke pasar malem lagi dan sekarang gue kesini, gila gue seneng banget, thanks Ran” ungkap Riani pada Randy dengan melemparkan senyum simpulnya.

Randy hanya membalas dengan senyum. Syukur deh kalo kamu senang Riani, karena ini yang gue harepin, gue selalu ingin liat lo tersenyum bahagia sebahagia hati gue sekarang ini,  karena bisa pergi berdua kesini sama lo, gumam Randy dalam hatinya.

“Kita naik kincir yuk?” ajakan Riani memecahkan lamunan Randy . Sebuah permainan seperti kipas angin raksasa yang di ujung sisi sayapnya terdapat sebuah tempat seperti sarang burung yang bisa kita tempati ketika naik wahana tersebut. Mereka pun naik wahana tersebut sambil memegang harummanis. Angin malam yang dingin menusuk pori-pori kulit Riani yang kebetulan tidak mengenakan jaket. Wajah Riani kini berubah pucat dari biasanya, kegirangannya sebelum naik wahana ini hilang setelah menaiki wahana ini. Karena memang sejak dari rumah dirinya tidak enak badan.

“Are you okay?” tanya Randy cemas. Dan jawaban Riani hanya mengangguk lemas.

“Seriusan?” tanya Randy memastikan

“Aku...” jawab Riani semakin lemas. Tiba-tiba dari hidungnya keluar setetes darah dan ia pun pingsan ketika posisi kincirnya berada tepat di puncak.

“Ri....ri....rianiii” teriak Randy cemas. Riani kini berada pada pundaknya, dirinya berteriak pada petugas kincir untuk segera menurunkan mereka. Akhirnya Riani berhasil dibawa ke rumah sakit.

∞∞∞

Seorang Dokter keluar dari ruangan UGD dan langsung menanyakan keluarga Riani. Namun hanya Randy yang berada di sana. Terpaksa dirinyalah yang harus menggantikan keluarga Riani untuk ikut ke ruangan dokter.

“Secepatnya pasien harus segera diberikan transfusi darah, karena kalau tidak akan berakibat fatal” papar Dokter

“Memangnya Riani sakit apa dok?” tanya Randy penasaran

“Saudari Riani mengidap penyakit Thalasemia” jawab Dokter

“Penyakit apa itu dok? Tapi selama ini ia terlihat sehat dok” tanya Randy semakin penasaran

“Thalasemia merupakan penyakit kelainan gen bawaan yang memakan hemoglobin, sehingga penderita dapat mengalami anemia sepanjang hidupnya. Penyakit ini sangat berbahaya bila tidak segera di beri transfusi darah, jika tempo waktu yang diberikan setelah transfusi habis, maka pasien akan kekurangan darah yang mengakibatkan wajah menjadi pucat dan paling parah bisa menyebabkan kematian. Dan memang, jika pasien telah melakukan transfusi darah ia akan terlihat seperti orang sehat pada umumnya” jelas Dokter

“Kalau begitu ambil darah saya saja dokter” tawar Randy menggebu-gebu. Dirinya kaget dan seperti tidak percaya. Orang yang selama ini bersama dia terlihat ceria, ternyata memiliki sebuah penyakit mematikan. Dan sekarang ia menyadari bahwa pertanyaan yang selama ini hinggap di otaknya, mengapa setiap tanggal 24 riani selalu izin dan pergi tanpa memberitahukan padanya. itu dikarenakan memang Riani harus melakukan transfusi darah di rumah sakit.

Randy masuk pada sebuah ruangan ICU, yang memang Riani ada didalamnya. Ia meneteskan air mata ketika ia melihat Riani terbaring lemah sendirian yang hanya ditemani oleh alat-alat medis yang tentunya menyakitkan. Ia menghampiri Riani dan menyatakan satu hal.

“Ri, kenapa lo gak bilang kalo lo sakit? Kalau seandainya lo jujur sama gue, gue bakalan bantu lo, gue bakalan lebih bahagiain lo. Sebenernya gue sayang banget sama lo, dan rencana gue bawa lo ke pasar malam itu, gue berniat untuk nyatain perasaan gue sama lo. Jujur aku gak bisa kehilangan lo. Sekarang lo bangun Ri,” tanpa disangka kata-kata Randy membuat Riani tersadar dari masa kritisnya.

“Ran..dy...” ucap Riani kaku

“Ri...lo udah sadar” jawab Randy gak percaya

“Lo gabakalan ninggalin gue kan, Ri? Gue sayang banget sama lo, gue gamau lo sakit apalagi kehilangan lo, Ri” jelas Randy khawatir

“Maksud kamu apa Ran?” tanya Riani bingung

“Mmm..maksud gue, gue sayang sama lo, dan gue udah mendem rasa ini sejak dulu kita SD, Ri. Gue mau lo jadi pacar gue atau kalo lo mau, lo mau jadi istri gue?” pernyataan Randy, sontak membuat Riani kaget. Sebernarnya, Riani pun memendam perasaan yang sama seperti Randy sejak awal mereka bertemu di SMA. Dan akhirnya kasih sayang terpendam mereka kini terungkap.

∞∞∞

Kini Randy dan Riani telah resmi bertunangan. Rencana mereka untuk menikah akan segera terwujud dalam waktu 24 hari lagi. Tidak disangka kasih sayang yang mereka bangun sejak persahabatan mereka dulu kini berbuah manis dan mampu membawa mereka menuju bahtera kehidupan yaitu pernikahan.

1 hari sebelum pernikahan, Riani mendapat kabar bahwa seseorang yang ia kasihi telah mengalami kecelakaan motor pada saat pulang shalat jum’at menuju rumahnya dan kini Randy telah berada disebuah rumah sakit. Dalam keadaan shock Riani pun jatuh pingsan tak sadarkan diri dan langsung dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Randy. Ruangan mereka pun saling bersebelahan. Ketika Randy sedang dioperasi, keadaan Riani semakin memburuk, kondisi tubuhnya semakin menurun. Naik turunya detak jantung pada layar monitor Randy dan Riani menunjukan kesamaan kondisi keduanya yang semakin melemah. Ternyata Tuhan berkehendak lain, tepat pada tanggal 24 April yang mereka impikan sebagai hari dimana mereka akan bersatu hidup dalam sebuah biduk rumah tangga, kini mereka hidup kekal bersama pada kehidupan yang berbeda.

Dulu tempat tinggal mereka saling berjauhan, namun kini mereka tinggal selama-lamanya berdampingan pada segunduk tanah yang diberi label nama dan taburan bunga........ TAMAT

Komentar

Posting Komentar